makalah BBLR



MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS
“BERAT BAYI BARU LAHIR RENDAH”



Disusun Oleh:
1.     Adriana Hernita P (051922021)
2.     Nur Faizah (051921001)
3.     Rosalia Roja Kaha (051922002)
4.     Veronika Bahan Tuannaen (051811009)
5.     Peni LianSari (051922025)


PRODI KEBIDANAN 2018-2019
UNIVESITAS BINAWAN

2020

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME yang telah memberikan rahmat hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini meskipun jauh dari kesempurnaan.
            Pembuatan makalah ini kami harapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dalam menambah ilmu khususnya dalam mata Kuliah Makalah Asuhan Kebidanan Komunitas. Pada kesempatan ini kami membuka diri untuk menerima kritik dan saran demi perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.





Jakarta, Maret 2020
                                                                                                                                               Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i
DAFTAR ISI…………………………………..........................................................…………………..ii
BAB I PENDAHULUAN.. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. 2
BAB III PENCEGAHAN PADA ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS. 2
BAB IV PENUTUP. 2
DAFTAR PUSTAKA



BAB I

PENDAHULUAN



BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) diartikan sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. BBLR merupakan prediktor tertinggi angka kematian bayi, terutama dalam satu bulan pertama kehidupan (Kemenkes RI,2015). Bayi BBLR mempunyai risiko kematian 20 kali lipat lebih besar di bandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Lebih  dari  20 juta  bayi  di  seluruh  dunia  lahir dengan  BBLR  dan  95.6%  bayi  BBLR  lahir  di negara yang  sedang  berkembang, contohnya di Indonesia. Survey Demografi  dan  Kesehatan  Indonesia tahun 2014-2015, angka prevalensi BBLR di Indonesia masih tergolong tinggi yaitu 9% dengan sebaran yang cukup bervariasi pada masing-masing provinsi.Angka terendah tercatat di Bali (5,8%) dan tertinggi di Papua (27%),sedangkan di Provinsi Jawa Tengah berkisar 7% (Kemenkes RI,2015). BBLR disebabkan oleh usia kehamilan yang pendek (prematuritas),dan IUGR (Intra Uterine Growth Restriction) yang dalam bahasa Indonesia disebut Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) atau keduanya. Kedua penyebab ini dipengaruhi oleh faktor risiko, seperti faktor ibu, plasenta,janin dan lingkungan. Faktor risiko tersebut menyebabkan kurangnya pemenuhan nutrisi pada janin selama masa kehamilan. Bayi dengan berat badan lahir rendah umumnya mengalami proses hidup jangka panjang yang kurang baik. Apabila tidak meninggal pada awal kelahiran, bayi BBLR memiliki risiko tumbuh dan berkembang lebih lambat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Selain gangguan tumbuh kembang, individu dengan riwayat BBLR mempunyai faktor risiko tinggi untuk terjadinya hipertensi, penyakit jantung dan diabetes setelah mencapai usia 40 tahun (Juaria dan Henry, 2014).

Pada masa sekarang ini, sudah dikembangkan tatalaksana awal terhadap bayi BBLR dengan menjaga suhu optimal bayi, memberi nutrisi adekuat dan melakukan pencegahan infeksi. Meskipun demikian, masih didapatkan 50% bayi BBLR yang meninggal pada masa neonatus atau bertahan hidup dengan malnutrisi, infeksi berulang dan kecacatan perkembangan neurologis. Oleh karena itu,pencegahan insiden BBLR lebih diutamakan dalam usaha menekan Angka Kematian Bayi (Prawiroharjo,2014). Development Goals yang ke IV yaitu menurunkan angka kematian anak terutama di negara berkembang, perlu dilakukan upaya pencegahan kejadian BBLR di masa mendatang, salah satunya dengan melakukan pengawasan ketat terhadap faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kejadian BBLR. Berdasarkan data diatas, maka perlu diteliti faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian BBLR di RSU Sukoharjo.















  

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian BBLR


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (< 37 minggu) atau pada bayi cukup bulan (intrauterine growth restriction) (Pudjiadi, dkk, 2010)


            a.       Menurut harapan hidupnya

·         Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram.

·         Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 10001500 gram.

·         Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang dari 1000 gram.

           b.      Menurut masa gestasinya

·         Prematuritas murni

Yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK).

·         Dismaturitas

yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi kecil untuk masa kehamilannya (KMK).


Penyebab BBLR pada bayi kurang bulan antara lain:

            1.      Berat badan ibu yang rendah

            2.      Ibu hamil yang masih remaja

            3.      Gemeli

            4.      Ibu pernah melahirkan bayi prematur

           5.    Ibu dengan inkompeten serviks (mulut Rahim yang lemah sehingga tida mampu menahan berat bayi dalam Rahim)

          6.      Ibu hamil yang sedang sakit

         7.      Tidak diketahui penyebabnya

Penyebab BBLR pada bayi cukup bulan Antara lain:

               1.      Ibu hamil dengan giji buruk

               2.      Ibu dengan penyakit hipertensi,preeklamsia,anemia.

               3.      Ibu menderita penyakit klinis (penyakit jantung sianosis),infeksi saluran kemih, malaria

               4.      Ibu hamil yang merokok dan yang menyalah gunakan obat


     a.       Asfiksia

BBLR bisa kurang, cukup atau lebih bulan, semuanya berdampak pada proses adaptasi pernapasan waktu lahir sehingga mengalami asfiksia lahir. BBLR membutuhkan kecepatan dan keterampilan resusitasi.

     b.      Gangguan Nafas

Gangguan napas yang sering terjadi pada BBLR kurang bulan adalah penyakit membaran hialin,sedangkan pada BBLR lebih bulan adalah aspirasi meconium.BBLR yang mengalami gangguan napas harus segera di rujuk ke fasilitas rujukan yang lebih tinggi.

     c.       Hipotermi

Terjadi karna hanya sedikitnya lemak tubuh dan sistem pengaturan  suhu tubuh pada bayi baru lahir belum matang. Metode kanguru dengan “ kontak kulit dengan kulit” membantu BBLR tetap hangat.

    d.      Hipoglikemi

Karena hanya sedikitnya simpanan energi pada bayi baru lahir dengan BBLR. BBLR membutuhkan asi sesegera mungkin setelah lahir dan minum sangat sering(setiap 2 jam) pada minggu pertama

    e.       Masalah Pemberian Asi

Karena ukuran BBLR kecil, kurang energi,lemah,lambungnya kecil dan tidak dapat menghisap.BBLR sering mendapatkan asi dengan bantuan, membutuhkan pemberian asi dalam jumlah yang lebih sedikit tapi sering.BBLR dengan kehamilan kurang dari >35 minggu dan berat lahir > 2000gr umumnya langsung bisa menetek.

    f.       Infeksi

Karena sistem kekebalan tubuh BBLR belum matang.keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat BBLR belum matang.keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat BBLR harus melakukan tindakan pencegahan infeksi Antara lain dengan mencuci tangan dengan baik.

   g.      Icterus ( kadar bilirubin yang tinggi)

Karena fungsi hati belum matang.BBLR menjadi kuning lebih awal dan lebih lama dari bayi yang cukup beratnya.



2.5 Penanganan BBLR


         1.      Penanganan BBLR Kurang Bulan

a.       Pemberian ASI

b.      Pengaturan Suhu

Bayi premature mudah dan cepat sekali menderita hipotermi bila berada dalam lingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relative lebih luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak dibawah kulit. Untuk mencegah hipotermi, perlu diusahakan lingkungan yang cukup hangat untuk bayi dan dalam keadaan istrahat konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi dengan berat badan kurang dari 2 Kg adalah 35°C dan untuk bayi dengan berat badan 2 – 2,5 kg 34°C, agar ia dapat mempertahankan suhu tubuh sekitar 37°C. Kelembaban incubator sekitar 50 – 60%.

Kelembaban yang lebih tinggi diperlukan pada bayi dengan syndrome gangguan pernafasan. Suhu incubator dapat diturunkan 1°C perminggu untuk bayi dengan berat badan 2 Kg dan secara berangsur-angsur ia dapat diletakkan didalam tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27°C - 29°C. Bila incubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol – botol hangat disekitarnya atau dengan memasang lampu petromaks didekat tempat tidur bayi.

c.       Makanan Bayi

Pada bayi premature refleksi isap, telan dan batuk  belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang disamping itu kebutuhan protein 3 – 5 gram/hari dan tinggi kalori ( 110 kal/kg/hari ), agar berat badan bertambah sebaik-baiknya. Jumlah ini lebih tinggi dari yang diperlukan bayi cukup bulan. Pemberian minum bayi dimulai pada umur tiga jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia.

d.      Mencegah Infeksi

Bayi premature mudah sekali terserang infeksi. Ini disebabkan karena daya tahan tubuh terhadap infeksi masih kurang, relative belum sanggup membentuk antibody dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum naik. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan dengan cara:

1.      Dilakukan pemisahan antara bayi yang terkena infeksi dengan bayi yang tidak terkena infeksi

2.      Mencuci tangan setiap kali sebelum dan sesudah memegang seorang bayi

3.      Membersihkan tempat tidur bayi segera sesudah tidak terpakai lagi

4.      Membersihkan ruangan pada tempat – tempat tertentu

5.      Setiap bayi memiliki perlengkapan sendiri

6.      Setiap petugas dibangsal bayi harus memakai pakaian yang telah disediakan

7.      Petugas yang menderita penyakit menular dilarang merawat bayi

8.      Kulit dan tali pusat bayi harus dibersihkan sebaik-baiknya

9.      Para pengunjng hanya bisa melihat bayi dari belakang kaca.

   2.      Penanganan BBLR Bayi Cukup Bulan

a) Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri serta menemukan gangguan pertumbuhan

b)      Memeriksa kadar gula darah, bila terbukti adanya hipoglikemia harus segera diatasi

c)      Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya

d)     Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi premature

e)  Melakukan tracheal – washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.


BAB III

PENCEGAHAN PADA ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS





1.      Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun waktu kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama factor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu.

2.      Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda – tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik.

3.      Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20 – 34 tahun).

4.      Perlu dukungan sector lain yang terkait untuk turut berperan dalam  meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.


a)      Mempertahankan suhu tubuh optimal

b)      Mempertahankan oksigenasi

c)      Memenuhi kebutuhan nutrisi

d)     Mencegah dan mengatasi infeksi

e)      Mengatasi hiperbilirubinemia

f)       Memenuhi kebutuhan psikologis

g)      Melibatkan program imunisasi





BAB IV

PENUTUP


4.1 Kesimpulan


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (< 37 minggu) atau pada bayi cukup bulan (intrauterine growth restriction) (Pudjiadi, dkk, 2010).

Klasifikasi BBLR berdasarkan BB lahir:

a.       BBLR : BB < 2500 gr

b.      BBLSR : BB 1000 – 1500 gr

c.       BBLASR  : BB < 1000 gr

4.2 Saran


     1.      Kepada Mahasiswa

Diharapkan kepada mahasiswa kesehatan masyarakat untuk selalu memberikan penyuluhan ataupun penyebarluasan informasi tentang BBLR kepada masyarakat khususnya para ibu hamil unutuk selalu memperhatikan kesehatan dirinya dan janinnya.

    2.      Kepada Petugas Kesehatan

Diharapkan agar para petugas kesehatan selalu membantu para ibu hamil dalam menjaga kesehatan dirinya dan janinnya dengan memberikan pelayanan yang maksimal.

   3.      Kepada Ibu Hamil

Diharapkan agar selalu memeriksakan diri ke posyandu ataupun puskesmas terdekat demi kesehatan dirinya dan








http://eprints.ums.ac.id/62622/3/BAB%20I.pdf


Misaroh Ibrahim, Siti.2010. Nutrisi Janin & Ibu Hamil. Nuha Medika. Yogyakarta

Proverawati, Atikah. 2010.  Nutrisi Janin & bu Hamil. Nuha Medika. Yogyakarta

Prawirohardjo, Sarwono. 2001. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta
























Comments