KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan rahmat
hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini meskipun jauh dari
kesempurnaan.
Pembuatan makalah ini
saya harapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dalam menambah ilmu khususnya
dalam mata kuliah Asuhan kebidanan Pada Masa Nifas dan Menyusui.
Pada kesempatan ini saya
membuka diri untuk menerima kritik dan saran demi perbaikan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Jakarta, Oktober 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTARDAFTAR ISI………………………………………………………………………ii
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Memberi
ASI pada bayi merupakan proses alami sebagai kewajiban seorang ibu yang
mengasuh anaknya. Karena ASI merupakan makanan utama untuk bayi umur 0-6 bulan
pertama kehidupannya. Proses alami untuk memberikan ASI sudah dimulai saat
terjadi kehamilan, karena bersama dengan hamil, payudara telah disiapkan
sehingga setelah bayi lahir ibu bisa segera memberikan ASI pada bayinya.
Sejak hari
ketiga sampai hari keenam setelah persalinan, ketika ASI secara normal
dihasilkan, payudara menjadi sangat penuh. Hal ini bersifat fisiologis dan
dengan penghisapan yang efektif dan pengeluaran ASI oleh bayi, rasa penuh
tersebut pulih dengan cepat. Namun keadaan ini bisa menjadi bendungan, pada
bendungan payudara terisi sangat penuh dengan ASI dan cairan jaringan. Aliran
vena dan limfotik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat dan tekanan pada
saluran ASI dan alveoli meningkat.
Payudara
yang terbendung membesar, membengkak, dan sangat nyeri. Payudara dapat terlihat
mengkilat dan edema dengan daerah eritema difus. Puting susu teregang menjadi
rata, ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap
ASI, wanita kadang- kadang menjadi demam akibat ASInya tidak keluar dengan
baik.
Keluhan
ibu menurut Prawirohardjo, (2005) adalah payudara bengkak, keras, panas dan
nyeri. Penanganan sebaiknya dimulai selama hamil dengan perawatan payudara
untuk mencegah terjadinya kelainan.
Bila
terjadi pembendungan ASI maka berikan terapi simptomatis untuk sakitnya
(analgetika), kosongkan payudara, sebelum menyusui pengurutan dulu atau
dipompa, sehingga sumbatan hilang. Kalau perlu berikan stilbestrol atau lynoral
tablet 3 kali sehari selama 2-3 hari untuk membendung sementara produksi ASI.
1.
Apa pengertian bendungan
ASI?
2.
Apa penyebab bendungan ASI?
3.
Apa tanda gejala bendungan
ASI?
4.
Bagaimana patofisiologi
bendungan ASI?
5.
Bagaimana penatalaksanaan
bendungan ASI?
6.
Bagaimana cara mencegah
terjadinya bendungan ASI?
1.
mengetahui pengertian
bendungan ASI
2.
mengetahui penyebab
bendungan ASI
3.
Mengetahui tanda gejala
bendungan ASI
4.
Mengetahui bagaimana
patofisiologi bendungan ASI
5.
mengetahui penatalaksanaan
bendungan ASI
6.
mengetahui cara mencegah
terjadinya bendungan ASI
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Bendungan
ASI (Engorgement) adalah penyempitan pada duktus laktiferus, sehingga sisa ASI
terkumpul pada system duktus yang mengakibatkan terjadinya pembekakan (Sarwono,
2008).
Bendungan
ASI adalah pembendungan ASI karena penyempitan duktus laktiferus atau oleh
kelenjar-kelenjar yang tidak di kosongkan dengan sempurna atau karena kelainan
pada puting susu, payudara yang membengkak ini yang sering terjadi biasanya
terjadi sesudah melahirkan pada hari ketiga atau ke empat (Bahiyatun, 2008).
Kepenuhan
fisiologis menurut Rustam (1998) adalah sejak hari ketiga sampai hari keenam
setelah persalinan, ketika ASI secara normal dihasilkan, payudara menjadi
sangat penuh. Hal ini bersifat fisiologis dan dengan penghisapan yang efektif
dan pengeluaran ASI oleh bayi, rasa penuh tersebut pulih dengan cepat. Namun
dapat berkembang menjadi bendungan.
Pada
bendungan, payudara terisi sangat penuh dengan ASI dan cairan jaringan. Aliran
vena limpatik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat dan tekanan pada saluran
ASI dengan alveoli meingkat. Payudara menjadi bengkak, merah dan mengkilap.
Jadi
dapat diambil kesimpulan perbedaan kepenuhan fisiologis maupun bendungan ASI
pada payudara adalah :
·
Payudara yang penuh terasa panas, berat
dan keras. Tidak terlihat mengkilap. ASI biasanya mengalir dengan lancar dengan
kadang-kadang menetes keluar secara spontan.
·
Payudara yang terbendung membesar,
membengkak dan sangat nyeri. Payudara terlihat mengkilap dan puting susu
teregang menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit menghisap
ASI sampai bengkak berkurang.
2.2 Penyebab/Etiologi
Bendungan
air susu dapat terjadi pada hari ke dua atau ke tiga ketika payudara telah
memproduksi air susu. Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air susu yang tidak
lancar, karena bayi tidak cukup sering menyusu, produksi meningkat, terlambat
menyusukan, hubungan dengan bayi (bonding) kurang baik dan dapat pula karena
adanya pembatasan waktu menyusui. (Sarwono, 2009)
Pada
bendungan ASI payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri.
Payudara terlihat mengkilap dan puting susu teregang menjadi rata. ASI tidak
mengalir dengan mudah dan bayi sulit menghisap ASI sampai bengkak berkurang.
Beberapa
faktor yang dapat menyebabkan bendungan ASI, yaitu:
1. Pengosongan
mamae yang tidak sempurna
Dalam masa laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI
pada Ibu yang produksi ASI-nya berlebihan. apabila bayi sudah kenyang dan
selesai menyusu, & payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI
di dalam payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menimbulkan
bendungan ASI
2. Faktor
hisapan bayi yang tidak aktif
Pada masa laktasi, bila Ibu tidak menyusukan bayinya
sesering mungkin atau jika bayi tidak aktif mengisap, maka akan menimbulkan
bendungan ASI
3. Faktor
posisi menyusui bayi yang tidak benar
Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan
puting susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu.
Akibatnya Ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI
4. Puting
susu terbenam
Puting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi
dalam menyusu. Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak
mau menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI
5. Puting
susu terlalu panjang
Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada
saat bayi menyusu karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus
laktiferus untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan
bendungan ASI
2.3 Tanda Dan Gejala Bendungan ASI
·
Mamae panas serta keras pada saat perabaan
dan nyeri
·
Puting susu bisa mendatar sehingga bayi
sulit menyusu
·
Pengeluaran air susu kadang terhalang
oleh duktus laktifer menyempit
·
Payudara bengkak,keras,panas
·
Nyeri bila ditekan
·
Warnanya kemerahan
·
Suhu tubuh sampai 38℃
2.4 Patofisiologi
Sesudah
bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3
hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi prolaktin waktu
hamil, dan sangat di pengaruhi oleh estrogen tidak dikeluarkan lagi, dan
terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus-alveolus
kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkan dibutuhkan
refleks yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus
dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Refleks ini timbul bila bayi
menyusui. Apabila bayi tidak menyusu dengan baik, atau jika tidak dikosongkan
dengan sempurna, maka terjadi bendungan air susu.
2.5 Penatalaksanaan Bendungan ASI
Terapi dan pengobatan
menurut prawirohardjo (2005) adalah:
·
Anjurkan ibu untuk tetap menyusui
bayinya
·
Anjurkan ibu untuk melakukan post natal
breast care
·
Lakukan pengompresan dengan air hangat
sebelum menyusui dan kompres dingin sesudah menyusui untuk mengurangi rasa
nyeri
·
Gunakan BH yang menopang
·
Berikan parasetamol 500 mg untuk
mengurangi rasa nyeri dan menurunkan panas.
Sebaiknya
selama hamil atau dua bulan terakhir sebelum kelahiran dilakukan masase atau
perawatan puting susu dan areola mamae untuk mencegah terjadinya puting susu
kering dan mudah mencegah terjadinya payudara bengkak.
2.5.1 Bagi Ibu Yang Tidak Menyusui
·
Sangga payudara
·
Kompres dingin payudara untuk mengurangi
pembengkakan dan rasa sakit
·
Bila di perlukan berikan PCT 500 mg per
Oral setiap 4 jam
·
Jangan di pijat atau memakai kompres
hangat payudara
·
Pompa dan kosongkan payudara
2.6 Pencegahan Terjadinya Bendungan ASI
ü Gunakan
teknik menyusui yang benar
ü Puting
susu dan areola mamae harus selalu kering setelah selesai menyusui
ü pakai
Bra yang dapat menyerap keringat
ü Menyusui
dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan
ü Susui
bayi tanpa jadwal/On Demand
ü Keluarkan
ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi
ü Menyusui
yang sering
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ibu
yang sedang dalam masa nifas dapat
mengalami beberapa masalah yang
biasanya terjadi seperti pembendunga air susu ibu, ini dapat terjadi pada hari
ke dua atau ke tiga ketika payudara telah memproduksi air susu. hal ini
disebabkan karena kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari sesudah
melahirkan. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi prolaktin waktu
hamil, dan sangat di pengaruhi oleh estrogen tidak dikeluarkan lagi, dan
terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan
alveolus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk
mengeluarkan dibutuhkan reflek, yang bisa timbul dari hisapan bayi, apabila
bayi tidak menyusu dengan baik, atau jika tidak dikosongkan dengan sempurna,
maka terjadi bendungan air susu.
Tanda
dan gejala pembendungan ASI yang biasanya dirasakan oleh ibu yaitu Mamae panas
serta keras pada saat perabaan dan nyeri Warnanya kemerahan.Suhu tubuh sampai
38oc.
Penatalaksanaanya
bisa dengan dikompres ataupun dengan pemberian obat paracetamol jika ibunya
mengalami deman.
3.2 Saran
Bagi Tenaga Kesehatan:
·
Diharapkan petugas kesehatan lebih
meningkatkan konseling tentang menyusui secara eksklusif.
·
Diharapkan petugas kesehatan bisa
mempertahankan pelayanan kebidanan yang sudah memenuhi standart.
Bagi Pasien
·
Diharapkan pasien aktif bertanya kepada
petugas meskipun belum ada keluhan, dan melakukan kunjungan ulang sesuai dengan
jadwalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo,
Sarwono, 2005. Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Mochtar,
Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC
Prawirohardjo,
Sarwono. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal
dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Cindank,
rindang.2010.”bendungan ASI”.DIKUTP DAR:https://www.academia.edu/10272278/Bendungan_ASI.
diakses pada tanggal 19 Oktober 2019
Comments
Post a Comment