MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI KB
BULLYING
Disusun Oleh:
Desi Ratnasari 051811001
Nur Faizah 051921001
Dosen Pembimbing:
Irwanti Gustina, SST,MKes
PRODI KEBIDANAN
UNIVERSITAS BINAWAN
JL.DEWI SARTIKA-KALIBATA RAYA JAKARTA
TIMUR
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME yang telah memberikan rahmat
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini meskipun jauh dari
kesempurnaan.
Pembuatan makalah ini kami berharap
dapat menjadi bahan pembelajaran dalam menambah ilmu khususnya dalam mata
kuliah “Kesehatan
Reproduksi KB”. Pada kesempatan ini kami
membuka diri untuk menerima kritik dan saran demi perbaikan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Jakarta,
Maret 2020
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………………..iii
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN
Lemahnya emosi seseorang akan berdampak pada terjadinya
masalah di kalangan remaja, misalnya bullying yang sekarang kembali mencuat di
media. Kekerasan di sekolah ibarat fenomena gunung es yang nampak ke permukaan
hanya bagian kecilnya saja. Akan terus berulang, jika tidak ditangani secara
tepat dan berkesinambungan dari akar persoalannya.
Budaya bullying (kekerasan) atas nama senioritas masih terus
terjadi di kalangan peserta didik. Karena meresahkan, pemerintah didesak segera
menangani masalah ini secara serius. Bullying adalah suatu bentuk kekerasan
anak (child abuse) yang dilakukan teman sebaya kepada seseorang (anak) yang
lebih ‘rendah’ atau lebih lemah untuk mendapatkan keuntungan atau kepuasan
tertentu. Biasanya bullying terjadi berulang kali. Bahkan ada yang dilakukan
secara sistematis. Dari menjamurnya, kasus – kasus bullying yang ada di lembaga
pendidikan di Indonesia khususnya lingkungan sekolah, penulis mengambil tema
yang berkaitan dengan perilaku bullying di jenjang pendidikan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan bullying?
2. Apa
jenis-jenis perbuatan bullying?
3. Apa
saja faktor yang menyebabkan perilaku bullying?
4. Apa
saja dampak yang didapat akibat dari perilaku bullying?
5. Bagaimana
upaya pencegahan bullying?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui
yang dimaksud dengan bullying
2. Mengetahui
jenis-jenis perbuatan bullying
3. Mengetahui
apa saja faktor yang menyebabkan perilaku bullying
4. Mengetahui
dampak yang didapat akibat dari perilaku bullying
5. Mengetahui
upaya pencegahan bullying
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN BULLYING
Definisi
bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Bullying berasal
dari kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu orang yang
lemah. Beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang seringkali dipakai
masyarakat untuk menggambarkan fenomena bullying di antaranya adalah
penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan, atau intimidasi
(Susanti, 2006).
Bullying adalah tindakan bermusuhan yang
dilakukan secara sadar dan disengaja yang bertujuan untuk menyakiti, seperti
menakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan terror. Termasuk juga tindakan
yang direncanakan maupun yang spontan bersifat nyata atau hampir tidak
terlihat, dihadapan seseorang atau di belakang seseorang, mudah untuk
diidentifikasi atau terselubung dibalik persahabatan, dilakukan oleh seorang
anak atau kelompok anak. (Barbara Coloroso (2003:44))
2.2 JENIS – JENIS TINDAKAN BULLYING
Barbara
Coloroso (2006:47-50) membagi jenis-jenis bullying kedalam empat jenis, yaitu
sebagai berikut:
1.
Bullying Secara Verbal
Perilaku
ini dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritikan kejam, penghinaan,
pernyataan-pernyataan yang bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual,
terror, surat-surat yang mengintimidasi, tuduhan-tuduhan yang tidak benar
kasak-kusuk yang keji dan keliru, gosip dan sebagainya. Dari ketiga jenis
bullying, bullying dalam bentuk verbal adalah salah satu jenis yang paling
mudah dilakukan dan bullying bentuk verbal akan menjadi awal dari perilaku
bullying yang lainnya serta dapat menjadi langkah pertama menuju pada kekerasan
yang lebih lanjut.
2.
Bullying Secara Fisik
Yang
termasuk dalam jenis ini ialah memukuli, menendang, menampar, mencekik,
menggigit, mencakar, meludahi, dan merusak serta menghancurkan barang-barang
milik anak yang tertindas. Kendati bullying jenis ini adalah yang paling tampak
dan mudah untuk diidentifikasi, namun kejadian bullying secara fisik tidak
sebanyak bullying dalam bentuk lain. Remaja yang secara teratur melakukan
bullying dalam bentuk fisik kerap merupakan remaja yang paling bermasalah dan
cenderung akan beralih pada tindakan-tindakan kriminal yang lebih lanjut.
3.
Bullying Secara Relasional
Adalah
pelemahan harga diri korban secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan
atau penghindaran. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap yang tersembunyi
seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan nafas, cibiran, tawa
mengejek dan bahasa tubuh yang mengejek. Bullying dalam bentuk ini cenderung
perilaku bullying yang paling sulit dideteksi dari luar. Bullying secara
relasional mencapai puncak kekuatannya diawal masa remaja, karena saat itu tejadi
perubahan fisik, mental emosional dan seksual remaja. Ini adalah saat ketika
remaja mencoba untuk mengetahui diri mereka dan menyesuaikan diri dengan teman
sebaya.
4.
Bullying Elektronik
Merupakan
bentuk perilaku bullying yang dilakukan pelakunya melalui sarana elektronik
seperti komputer, handphone, internet, website, chatting room, e-mail, SMS dan
sebagainya. Biasanya ditujukan untuk meneror korban dengan menggunakan tulisan,
animasi, gambar dan rekaman video atau film yang sifatnya mengintimidasi, menyakiti
atau menyudutkan. Bullying jenis ini biasanya dilakukan oleh kelompok remaja
yang telah memiliki pemahaman cukup baik terhadap sarana teknologi informasi
dan media elektronik lainnya.
Pada
umumnya, anak laki-laki lebih banyak menggunakan bullying secara fisik dan anak
wanita banyak menggunakan bullying relasional/emosional, namun keduanya
sama-sama menggunakan bullying verbal. Perbedaan ini, lebih berkaitan dengan
pola sosialisasi yang terjadi antara anak laki-laki dan perempuan (Coloroso,
2006:51).
2.3 FAKTOR PENYEBAB BULLYING
Bullying
dapat terjadi dimana saja, di perkotaan, pedesaan, sekolah negeri, sekolah
swasta, di waktu sekolah maupun di luar waktu sekolah. Bullying terjadi karena
interaksi dari berbagai faktor yang dapat berasal dari pelaku, korban, dan
lingkungan dimana bullying tersebut terjadi.
Pada umumnya,
anak-anak korban bullying memiliki salah satu atau beberapa faktor resiko
berikut:
·
Dianggap “berbeda”, misalnya memiliki
ciri fisik tertentu yang mencolok seperti lebih kurus, gemuk, tinggi, atau
pendek dibandingkan dengan yang lain, berbeda dalam status ekonomi, memiliki
hobi yang tidak lazim, atau menjadi siswa/siswi baru
·
Dianggap lemah atau tidak dapat membela
dirinya.
·
Memiliki rasa percaya diri yang rendah.
·
Kurang populer dibandingkan dengan yang
lain, tidak memiliki banyak teman.
Sedangkan untuk
pelaku bullying, Ada beberapa karakteristik anak yang memiliki kecenderungan
lebih besar untuk menjadi pelaku bullying, yaitu mereka yang:
·
Peduli
dengan popularitas, memiliki banyak teman, dan senang
menjadi pemimpin diantara teman-temannya. Mereka dapat berasal dari keluarga
yang berkecukupan, memiliki rasa percaya diri tinggi, dan memiliki prestasi
bagus di sekolah. Biasanya mereka melakukan bullying untuk meningkatkan status
dan popularitas di antara teman-teman mereka.
· Pernah
menjadi korban bullying, Mereka juga mungkin mengalami
kesulitan diterima dalam pergaulan, kesulitan dalam mengikuti pelajaran di
sekolah, mudah terbawa emosi, merasa kesepian dan mengalami depresi.
·
Memiliki
rasa percaya diri yang rendah, atau mudah
dipengaruhi oleh teman-temannya. Mereka dapat menjadi pelaku bullying karena
mengikuti perilaku teman-teman mereka yang melakukan bullying, baik secara
sadar maupun tidak sadar.
Dalam penelitian Riauskina, Djuwita, dan
Soesetio, (2005) alasan seseorang melakukan bullying:
1.
Tradisi
2.
balas dendam karena dia dulu
diperlakukan sama (menurut korban laki-laki)
3.
Ingin menunjukkan kekuasaan
4.
Marah karena korban tidak berperilaku
sesuai dengan yang diharapkan
5.
Mendapatkan kepuasan (menurut korban
laki – laki )
6.
Iri hati (menurut korban perempuan).
Menurut psikolog Seto Mulyadi, Bullying
disebabkan karena:
1.
Saat ini remaja di Indonesia penuh
dengan tekanan. Terutama yang datang dari sekolah akibat kurikulum yang padat
dan teknik pengajaran yang terlalu kaku. Sehingga sulit bagi remaja untuk
menyalurkan bakat nonakademisnya Penyalurannya dengan kejahilan-kejahilan dan
menyiksa.
2.
Budaya feodalisme yang masih kental di
masyarakat juga dapat menjadi salah satu penyebab bullying sebagai wujudnya
adalah timbul budaya senioritas, yang bawah harus nurut sama yang atas.
Perilaku
bullying pada anak, bisa dikarenakan:
1.
Teori Instink Mc Dougall
Menurut
Mc Dougall dalam diri setiap orang terdapat instink untuk menyerang dan
berkelahi. Dorongan dari naluri ini yaitu rasa marah karena suatu hal terutama
karena merasa terancam atau kebutuhannya tidak terpenuhi. Jadi ia melakukan
bullying untuk melepaskan emosi yang ia pendam.
2.
Teori Belajar Sosial (Social Learning)
Teori
belajar sosial yang dicetuskan oleh Bandura menekankan bahwa kondisi lingkungan
dapat memberikan dan memelihara respon-respon kekerasan pada diri seseorang.
Asumsi dasar dari teori ini yaitu sebagian besar tingkah laku individu
diperoleh dari hasil belajar melalui pengamatan yang dilakukan anak atas
tingkah laku yang ditampilkan oleh individu–individu lain yang menjadi model,
yang biasanya adalah orang terdekat di lingkungannya seperti orang tua.
Anak–anak yang melihat model orang dewasa melakukan kekerasan secara kosisten
ia akan memiliki kecenderungan berperilaku kekerasan bila dibandingkan dengan
anak-anak yang melihat model orang dewasa yang tidakmelakukan kekerasan.
3.
Pengaruh media
Tayangan
televisi yang bebas di Indonesia, dari film kartun hiburan anak-anak, adegan di
sinetron, berita kekerasan di daerah lain yang dapat dilihat secara bebas oleh
anak-anak dapat memberikan mereka contoh perilaku kekrasan yang akan ia
praktekkan di sekolah. Atau bila ia melihat hal itu secara terus menerus maka
keempatiannya terhadap perilaku kekerasan itu makin memudar, ia akan menganggap
kekerasan itu adalah hal yang wajar.
2.4 DAMPAK TINDAKAN BULLYING
Bullying
memiliki berbagai dampak negatif yang dapat dirasakan oleh semua pihak yang
terlibat di dalamnya, baik pelaku, korban, ataupun orang-orang yang menyaksikan
tindakan bullying.
1. Dampak bagi korban
Hasil
studi yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders
(2003; dalam Anesty, 2009) menunjukkan bahwa bullying dapat membuat remaja
merasa cemas dan ketakutan, mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan
menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Bila bullying berlanjut dalam jangka
waktu yang lama, dapat mempengaruhi self-esteem siswa, meningkatkan isolasi
sosial, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan remaja rentan terhadap
stress dan depreasi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebih ekstrim,
bullying dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau
melakukan bunuh diri (commited suicide).
Coloroso
(2006) mengemukakan bahayanya jika bullying menimpa korban secara berulang-ulang.
Konsekuensi bullying bagi para korban, yaitu korban akan merasa depresi dan
marah, Ia marah terhadap dirinya sendiri, terhadap pelaku bullying, terhadap
orang-orang di sekitarnya dan terhadap orang dewasa yang tidak dapat atau tidak
mau menolongnya. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya.
Berhubung tidak mampu lagi muncul dengan cara-cara yang konstruktif untuk
mengontrol hidupnya, ia mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam
pengasingan.
Terkait
dengan konsekuensi bullying, penelitian Banks (1993, dalam Northwest Regional
Educational Laboratory, 2001; dan dalam Anesty, 2009) menunjukkan bahwa
perilaku bullying berkontribusi terhadap rendahnya tingkat kehadiran, rendahnya
prestasi akademik siswa, rendahnya self-esteem, tingginya depresi, tingginya
kenakalan remaja dan kejahatan orang dewasa. Dampak negatif bullying juga
tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa.
Berbagai penelitian juga menunjukkan hubungan antara bullying dengan
meningkatnya depresi dan agresi.
2. Dampak bagi pelaku
Sanders
(2003; dalam Anesty, 2009) National Youth Violence Prevention mengemukakan
bahwa pada umumnya, para pelaku ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi
dengan harga diri yang tinggi pula, cenderung bersifat agresif dengan perilaku
yang pro terhadap kekerasan, tipikal orang berwatak keras, mudah marah dan
impulsif, toleransi yang rendah terhadap frustasi. Para pelaku bullying ini
memiliki kebutuhan kuat untuk mendominasi orang lain dan kurang berempati
terhadap targetnya. Apa yang diungkapkan tersebut sesuai dengan yang dikemukakan
oleh Coloroso (2006:72) mengungkapkan bahwa siswa akan terperangkap dalam peran
pelaku bullying, tidak dapat mengembangkan hubungan yang sehat, kurang cakap
untuk memandang dari perspektif lain, tidak memiliki empati, serta menganggap
bahwa dirinya kuat dan disukai sehingga dapat mempengaruhi pola hubungan
sosialnya di masa yang akan datang.
Dengan
melakukan bullying, pelaku akan beranggapan bahwa mereka memiliki kekuasaan
terhadap keadaan. Jika dibiarkan terus-menerus tanpa intervensi, perilaku
bullying ini dapat menyebabkan terbentuknya perilaku lain berupa kekerasan
terhadap anak dan perilaku kriminal lainnya.
3. Dampak bagi siswa lain yang
menyaksikan bullying (bystanders)
Jika
bullying dibiarkan tanpa tindak lanjut, maka para siswa lain yang menjadi penonton
dapat berasumsi bahwa bullying adalah perilaku yang diterima secara sosial.
Dalam kondisi ini, beberapa siswa mungkin akan bergabung dengan penindas karena
takut menjadi sasaran berikutnya dan beberapa lainnya mungkin hanya akan diam
saja tanpa melakukan apapun dan yang paling parah mereka merasa tidak perlu
menghentikannya.
Selain
dampak-dampak bullying yang telah dipaparkan di atas, penelitian- penelitian
yang dilakukan baik di dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa bullying
mengakibatkan dampak-dampak negatif sebagai berikut:
1.
Gangguan psikologis, misalnya rasa cemas
berlebihan, kesepian (Rigby K. 2003).
2.
Konsep diri sosial korban bullying
menjadi lebih negatif karena korbam merasa tidak diterima oleh teman-temannya,
selain itu dirinya juga mempunyai pengalaman gagal yang terus-menerus dalam
membina pertemanan, yaitu di bully oleh teman dekatnya sendiri (Ratna Djuwita,
dkk , 2005).
3.
Korban bullying merasakan stress,
depresi, benci terhadap pelaku, dendam, ingin keluar sekolah, merana, malu,
tertekan, terancam, bahkan ada yang menyilet-nyilet tangannya (Ratna Djuwita,
dkk , 2005).
4.
Membenci lingkungan sosialnya, enggan ke
sekolah (Forero et all.1999).
5.
Keinginan untuk bunuh diri
(Kaltiala-Heino, 1999).
6.
Kesulitan konsentrasi; rasa takut
berkepanjangan dan depresi (Bond, 2001).
7.
Cenderung kurang empatik dan mengarah ke
psikotis (Banks R., 1993).
8.
Pelaku bullying yang kronis akan membawa
perilaku itu sampai dewasa, akan berpengaruh negatif pada kemampuan mereka
untuk membangun dan memelihara hubungan baik dengan orang lain.
9.
Korban akan merasa rendah diri, tidak
berharga (Rigby, K, 1999).
10.
Gangguan pada kesehatan fisik: sakit
kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk- batuk,gatal-gatal, sakit dada, bibir
pecah-pecah (Rigby, K, 2003).
Berdasarkan
paparan di atas, dapat kita lihat bahwa bullying memiliki dampak yang luas
terhadap semua orang yang terlibat di dalamnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dalam jangka pendek dan dalam jangka panjang.
2.5 UPAYA MENGATASI BULLYING
Dalam
rangka mencegah bullying, banyak pihak telah menjalankan program dan kampanye
anti bullying di sekolah-sekolah, baik dari pihak sekolah sendiri, maupun
organisasi-organisasi lain yang berhubungan dengan anak. Namun, pada nyatanya,
bullying masih kerap terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia, seperti yang
dapat kita amati melalui kejadian baru-baru ini di salah satu SMA swasta yang
disebutkan di awal tulisan ini.
Lalu apakah
yang dapat kita –sebagai perorangan- lakukan untuk memerangi bullying?
1. Membantu
anak-anak mengetahui dan memahami bullying
Dengan menambah
pengetahuan anak-anak mengenai bullying, mereka dapat lebih mudah mengenali
saat bullying menimpa mereka atau orang-orang di dekat mereka. Selain itu
anak-anak juga perlu dibekali dengan pengetahuan untuk menghadapi bullying dan
bagaimana mencari pertolongan.
Hal-hal yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman anak mengenai bullying,
diantaranya:
·
Memberitahu pada anak bahwa bullying
tidak baik dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan maupun tujuan apapun.
Setiap orang layak diperlakukan dengan hormat, apapun perbedaan yang mereka
miliki.
·
Memberitahu pada anak mengenai
dampak-dampak bullying bagi pihak-pihak yang terlibat maupun bagi yang menjadi
“saksi bisu”.
2. Memberi
saran mengenai cara-cara menghadapi bullying
Setelah diberikan
pemahaman mengenai bullying, anak-anak juga perlu dibekali pengetahuan dan
keterampilan ketika mereka menjadi sasaran dari bullying agar dapat
menghadapinya dengan aman tanpa menggunakan cara-cara yang agresif atau
kekerasan, yang dapat semakin memperburuk keadaan.
Cara-cara yang dapat
digunakan, misalnya dengan mengabaikan pelaku, menjauhi pelaku, atau
menyampaikan keberatan mereka terhadap pelaku dengan terbuka dan percaya diri.
Mereka juga dapat menghindari bullying dengan berada di sekitar orang-orang
dewasa, atau sekelompok anak-anak lain.
Apabila anak menjadi
korban bullying dan cara-cara di atas sudah dilakukan namun tidak berhasil,
mereka sebaiknya didorong untuk menyampaikan masalah tersebut kepada
orang-orang dewasa yang mereka percayai, baik itu guru di sekolah maupun
orangtua atau anggota keluarga lainnya di rumah.
3. Membangun hubungan dan komunikasi dua arah
dengan anak
Biasanya pelaku
bullying akan mengancam atau mempermalukan korban bila mereka mengadu kepada
orang lain, dan hal inilah yang biasanya membuat seorang korban bullying tidak
mau mengadukan kejadian yang menimpa mereka kepada orang lain.
Oleh karena itu, sangat
penting untuk senantiasa membangun hubungan dan
menjalin komunikasi dua arah dengan anak, agar mereka dapat
merasa aman dengan menceritakan masalah yang mereka alami dengan orang-orang
terdekat mereka, dan tidak terpengaruh oleh ancaman-ancaman yang mereka terima
dari para pelaku bullying. Dalam kehidupan masa kini yang serba sibuk dan penuh
aktivitas, semakin sulit bagi para orangtua dan anggota keluarga untuk
4. Mendorong
mereka untuk tidak menjadi “saksi bisu” dalam kasus bullying
Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan pada anak-anak
sekolah dasar di Kanada, sebagian besar kasus bullying dapat dihentikan dalam
10 detik setelah kejadian tersebut berlangsung berkat campur tangan saksi –anak
anak lain yang hadir saat kejadian tersebut berlangsung- misalnya dengan
membela korban bullying melalui kata-kata ataupun secara fisik (memisahkan
korban dengan pelaku).
Anak-anak yang
menyaksikan kasus bullying juga dapat membantu dengan cara:
v Menemani
atau menjadi teman bagi korban bullying, misalnya dengan mengajak bermain atau
berkegiatan bersama.
v Menjauhkan
korban dari situasi-situasi yang memungkinkan ia mengalami bullying.
v Mengajak
korban bicara mengenai perlakuan yang ia terima, mendengarkan ia bercerita dan
mengungkapkan perasaannya.
Apabila
dibutuhkan, membantu korban mengadukan permasalahannya kepada orang dewasa yang
dapat dipercaya.
5. Membantu
anak menemukan minat dan potensi mereka
Dengan mengetahui minat dan potensi mereka, anak-anak akan
terdorong untuk mengembangkan diri dan bertemu serta berteman dengan
orang-orang yang memiliki minat yang sama. Hal ini akan meningkatkan rasa
percaya diri dan mendukung kehidupan sosial mereka sehingga membantu melindungi
mereka dari bullying.
Terhadap anak-anak yang berisiko terkena bullying atau
menjadi korban bullying, lakukan langkah berikut ini:
1)
Jangan membawa barang-barang mahal atau
uang berlebihan. Merampas, merusak, atau menyandera barang-barang korban adalah
tindakan yang biasanya dilakukan pelaku bullying. Oleh karena itu, sebisa mungkin
jangan beri mereka kesempatan membawa barang mahal atau uang yang berlebihan ke
sekolah.
2)
Jangan sendirian. Pelaku bullying
melihat anak yang menyendiri sebagai “mangsa” yang potensial. Oleh karena itu,
3)
Jangan sendirian di dalam kelas, di
lorong sekolah, atau tempat-tempat sepi lainnya. Kalau memungkinkan, beradalah
di tempat di mana guru atau orang dewasa lainnya dapat melihat. Akan lebih baik
lagi, jika anak tersebut bersama-sama dengan teman, atau mencoba berteman
dengan anak-anak penyendiri lainnya.
4)
Jangan cari gara-gara dengan pelaku bullying.
5)
Jika anak tersebut suatu saat
terperangkap dalam situasi bullying, kuncinya adalah tampil percaya diri.
6)
Jangan memperlihatkan diri seperti orang
yan lemah atau ketakutan.
7)
Harus berani melapor pada orang tua,
guru, atau orang dewasa lainnya yang dipercayainya. Ajaklah anak tersebut untuk
berani bertindak dan mencoba.
6. Memberi
teladan lewat sikap dan perilaku
Sebaik
dan sebagus apapun slogan, saran serta nasihat yang mereka dapatkan, anak akan
kembali melihat pada lingkungan mereka untuk melihat sikap dan perilaku seperti
apa yang diterima oleh masyarakat. Walaupun tidak terlihat demikian, anak-anak
juga memerhatikan dan merekam bagaimana orang dewasa mengelola stres dan
konflik, serta bagaimana mereka memperlakukan orang-orang lain di sekitar
mereka.
Apabila
kita ingin ikut serta dalam memerangi bullying, hal paling sederhana yang dapat
kita lakukan adalah dengan tidak melakukan bullying atau hal-hal lain yang
mirip dengan bullying. Disadari maupun tidak, orang dewasa juga dapat menjadi
korban ataupun pelaku bullying, misalnya dengan melakukan bullying di tempat
kerja, ataupun melakukan kekerasan verbal terhadap orang-orang di sekitar kita.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Bullying
adalah suatu tindakan negatif yang dilakukan secara berulang-ulang dimana
tindakan tersebut sengaja dilakukan dengan tujuan untuk melukai dan memnuat
seseorang merasa tidak nyaman.
Pemahaman moral
adalah pemahaman individu yang menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan
dilakukan dan bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu
adalah baik atau buruk. Pemahaman moral bukan tentang apa yang baik atau buruk,
tetapi tentang bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu
adalah baik atau buruk.
Peserta
didik dengan pemahaman moral yang tinggi akan memikirkan dahulu perbuatan yang
akan dilakukan sehingga tidak akan melakukan menyakiti atau melakukan bullying
kepada temannya.
Selain itu,
keberhasilan remaja dalam proses pembentukan kepribadian yang wajar dan
pembentukan kematangan diri membuat mereka mampu menghadapi berbagai tantangan
dan dalam kehidupannya saat ini dan juga di masa mendatang. Untuk itu mereka
seyogyanya mendapatkan asuhan dan pendidikan yang menunjang untuk perkembangannya.
3.2 SARAN
Hendaknya
pihak sekolah proaktif dengan membuat program pengajaran keterampilan sosial,
problemsolving, manajemen konflik, dan pendidikan karakter.
Hendaknya guru
memantau perubahan sikap dan tingkah laku siswa di dalam maupun di luar kelas;
dan perlu kerjasama yang harmonis antara guru BK, guru-guru mata pelajaran,
serta staf dan karyawan sekolah.
Sebaiknya orang
tua menjalin kerjasama dengan pihak sekolah untuk tercapainya tujuan pendidikan
secara maksimal tanpa adanya tindakan bullying antar pelajar di sekolah
DAFTAR PUSTAKA
http://www.psychologymania.com/2012/06/dampak-bullying-bagi-siswa.html
http://naufal.smamda.org/2009/05/28/bullying-di-sekolah-dan-upaya-meminimalisir
Comments
Post a Comment